: buat Ibu di Madiun
Ibu, sudahkah engkau bahagia?
Telah aku tunaikan separuh perjuangan. Adik tersayang sudah lulus sekolah dan bekerja di Cikarang. Rumah sederhana sudah terbangun di kampung halaman. Ibu tak perlu takut atap bocor, tiang gapuk, atau kebanjiran. Mimpi kita—ibu, almarhum bapak, adik, dan aku—mewujud jadi kenyataan. Apakah Ibu sudah merasa bahagia? Dapatkah keringatku menggantikan air matamu? Aku ingin Ibu bahagia. Tapi, aku tak sanggup mengeja arti bahagia. Tiap kupandang dua mata Ibu yang redup, selalu kutemu telaga tak terselami. Aku, anak lelakimu, ingin terjun ke sana, mengungkap misteri di dasarnya, tetapi tak bisa. Di puncak malam selalu dihantui pertanyaan: apakah Ibu sudah bahagia?
…..
Subuh di rumah nenek. Aku, bocah lelakimu, tergeragap dari tidur kusut tatkala Ibu berteriak-teriak histeris,”Bapak muntah darah! Bapak muntah darah! Bapak muntah darah!” Dari celah pintu, aku gemetar menyaksikan Ibu belepotan darah yang menyembur dari mulut Bapak. Kecamuk perasaan, hujan air mata, sekujur badan lemas. Aku terduduk lesu menyaksikan orang-orang menggotong tubuh Bapak. Dua mataku buram menyaksikan Ibu terjerat kesedihan tak berujung. Pagi beringsut ke tepi, menancapkan luka abadi di hati.
…..
Sesekali Ibu pulang dari rumah sakit. Merengkuh aku dan adik dalam pelukan. Samudera air mata meluap dari mata ibu, turun menderas membasahi wajah dan baju. Jiwa bocahku menggeletar dahsyat. Aku tak ingin Ibu sedih. Aku tak mau Ibu berair mata. Tapi, ternyata itu belum seberapa. Terakhir kali Ibu pulang dari rumah sakit bersama ambulan. Ibu pingsan. Sedih dan air mata itu telah mengkristal. Aku, bocah lelakimu, linglung menatap haru jasad Bapak dan tubuh Ibu. Tak ada air dari mata. Duka semesta mencacah dada.
.....
Aku belum genap sepuluh tahun. Di pojok pasar Pagotan, aku meraih kertas bungkus tempe, melipat-lipat jadi perahu. Di stan sumpek itu Ibu menjajakan bayam, wortel, tahu, terasi, lombok, gula pasir, garam dapur. Mata bocahku merekam suara ibu yang serak, dua tangan gesit jualan, bulir-bulir keringat di dahi dan pipi, nelangsa kala dagangan sepi, dan senyum seadanya kala pulang ke rumah. Seolah berucap sendu: hari ini kita makan nasi dengan lauk tahu. Kerap aku ngilu menahan keinginan membatu. Kata-kata yang tak pernah berani aku lontarkan dan selalu kutelan: Ibu, belikan aku mobil-mobilan.
…..
Puluhan tahun aku berusaha memecah udara.
…..
Kembali, di hening malam ini aku dicekam pertanyaan: sudahkah Ibu bahagia? Dapatkah keringat menghapus air mata? Segala daya telah aku coba. Separuh perjalanan, ya baru separuh perjalanan aku lakukan. Hanya sedikit yang bisa aku persembahkan. Aku ingin Ibu bahagia. Tapi, tak kunjung menemu rumusnya. Batin ini selalu bergolak kala melihat rembesan air mata Ibu bergulir pelan usai sembahyang. Ibu, sudahkah engkau bahagia?
Kos Plemahan, 28.12.2009, 01.05 AM
Senin, 28 Desember 2009
Rabu, 16 Desember 2009
Artikel ADA CINTA ANTAR LEAKI (GAY STORY)
Refleksi satu bulan pacaran: Ada Cinta Antar Lelaki (Gay Story)
Sungai air mata mbak Faradina—sahabat, penyair Merah Yang Meremah—meluap. Adik perempuan tersayang kecewa di Cikarang. Mereka sedih melihat saya bahagia. Sebab saya yang lelaki ini jatuh cinta pada dia yang juga lelaki. Sulit dijelaskan, pun sulit menjelaskan. Coba bayangkan perasaan maha dahsyat ini: kaki menjejak bumi, jiwa melambung ke langit tinggi. Dunia yang sumpek seketika menjelma surga. Bising kendaraan bermotor terdengar alunan melodi indah. Terik mentari terasa hangat di badan. Sunyi malam riuh geletar batin. Seluruh indera menjadi begitu peka. Hanya ada dia di setiap kedipan mata: lelaki tercinta.
Bagi saya, cinta adalah anugerah. Cinta bukan sejenis keinginan yang didapat dengan parameter tertentu. Cinta hadir, membuat manusia demam rindu atasnya. Dan yang terjadi di sini asmara. Menyeret saya dan dia menembangkan syair Kahlil Gibran,”Bila cinta memanggilmu, turutlah ke mana dia pergi.” Saya telah pergi menuju lelaki. Sebesar apa cinta itu, hanya saya sendiri yang tahu. Tidak pasangan saya, apalagi orang lain. Cukup disimpan di hati dan sesekali berbagi dalam bentuk puisi, semisal puisi Matahari Terbit Malam Hari.
Saya bukan tipikal orang yang mudah jatuh cinta. Selama empat tahun hati ini terkunci dan sekarang terbuka kembali. Bukan lantaran tak laku. Untuk seorang Antok Serean: ganteng, pintar, dan baik hati (ckckck) tawaran menjalin kasih—lelaki maupun perempuan—datang silih berganti. Tapi, saya tak bergeming. Cinta tanpa kompromi. Seolah mata air jernih yang bergulir indah di lereng-lereng hati dan menggenangi danau perasaan. Datang tanpa pesanan. Tugas saya hanyalah menjalani dengan lapang dada, jujur, ikhlas, dan penuh syukur. Sekarang cinta mempertemukan dengan lelaki, jalani saja. Pun nanti cinta mempertemukan dengan perempuan, jalani saja. Hati tak usah dikonstruksi. Biarkan mengalir apa adanya. Tak perlu dilawan, apalagi bunuh diri dengan ragam pengingkaran.
Dia berhasil membuat saya takhluk. Satu bulan dia mendekat, tak lelah mengajak, dan akhirnya tak menolak. Kenyataan bahwa pacar saya tampan tak bisa dipungkiri. Saya suka lantaran fisik memang iya. Bukankah senang mulanya pandangan? Tapi, bukan hanya itu alasannya. Dia serius dalam tindakan, terbuka, dan sudi berbagi apa saja. Di sisi lain, interpretasi saya tentang cinta, realitas hidup, dan nilai-nilai kehidupan sangat berbeda dibanding empat tahun lampau. Saya memahami konsep keutuhan diri dan konsep cinta yang membebaskan. Sekilas terdengar naïf. Tapi, bagi saya, cinta tidak untuk menjajah satu sama lain, justru membebaskan. Apabila sendiri berhadapan dengan cermin tunggal, maka berdua berhadapan dengan cermin ganda. Melalui dia saya dapat melihat diri saya yang lain.
Sebab hubungan antar lelaki tak ada patriarki, maka wilayah domestik aman-aman saja. Keseharian sederhana penuh makna. Seperti apa? Saya setrika, dia cuci baju. Saya bikin sarapan Sereal, dia antar belanja ke Carrefour. Juga saling mengingatkan satu sama lain. Dia yang rajin shalat mengingatkan saya untuk ibadah—sudah bisa ditebak, saya terlalu ndableg menjalankannya—. Dia minta saya mengurangi merokok. Dia menganjurkan minum jus buah dan rajin olahraga. Sebaliknya, saya minta dia teratur menaruh barang karena sifat pelupanya. Saya minta dia mengurangi makan dan rajin fitnes agar perutnya rata. Saya sumbang pemikiran ketika dia hendak pindah kerja. Atau menjalankan aktivitas bersama, seperti nonton ke bioskop, pergi ke tempat karaoke, pergi ke tempat ngeber, atau makan malam berdua. Indah bukan?
Tetapi, segala yang saya paparkan di atas tak ada di benak orang lain (baca: hetero). Selalu dan selalu, saya dihadapkan pada komentar, pertanyaan, dan ocehan dangkal seputar seks: siapa pewong siapa lekong, siapa nembak siapa ditembak. Memang tak ada yang salah dengan hal itu. Tapi, please deh, cerdas sedikit masa tidak bisa. Seolah kehidupan gay seputar selangkangan belaka. Lebih parah lagi, banyak yang melihat aktivitas gay terkait jual-beli tubuh. Saya benar-benar marah, ngamuk, mencak-mencak, ketika seorang karib bicara dengan enteng,”Kon dibayar piro sekali ngencuk?” (Kamu dibayar berapa sekali ML?) Saya dendam sebulan lamanya. Sebagai kawan dekat, saya merasa dilecehkan. Karib mengiba maaf. Oke, saya maafkan. Tapi, jangan memandang rendah saya atau gay lain.
Saya selalu bilang pada kawan hetero,”Saya suka lelaki atau perempuan tak merubah pribadi Antok Serean yang kamu kenal. Saya tetap suka membaca, menulis, melamun, dan cangkruk di warung kopi.” Pada kenyataannya, saya menerima perlakuan berbeda. Ketika pacaran dengan perempuan, mereka bersorak-sorak bergembira. Sebaliknya, ketika saya pacaran dengan lelaki, mereka menjaga jarak, seolah orang asing. Entahlah. Barangkali ini harga yang harus saya bayar demi nilai kejujuran. Menantang mainstream memang berat. Tapi, itu jalan yang saya pilih, lengkap dengan resikonya—banyak kawan dekat tak lagi mau kenal, terlebih setelah saya aktif di GAYa NUSANTARA—. Kalau sudah begitu, saya bakar semangat dengan baca ulang buku-buku Pramoedya Ananta Toer.
Meski masih dalam suasana kasmaran, tapi tampuk kesadaran saya tetap mengeja kefanaan hidup. Pertemuan dan perpisahan, kelahiran dan kematian, bak dua sisi mata uang. Kita tak bisa merenggut salah satunya. Bagi saya, titik beratnya bukan pada dua sisi itu, tapi proses di dalamnya. Setiap percintaan adalah kesempatan. Kesempatan menuai pengalaman. Bukankan hidup melaju dari rangkaian pengalaman demi pengalaman? Ada masanya kesempatan itu terhenti dan perpisahan terjadi. Bisa dengan akhir biasa-biasa saja: masing-masing merasa cukup lalu melanjutkan kehidupan sendiri—saya suka perpisahan indah ala Dee dan Marcel—. Bisa juga dengan dramaturgi klise: pertengkaran, perselingkuhan, salah satu menikah dengan perempuan, atau kematian. Saya tidak kenal kata putus, saya memilih kata pisah. Sebab kebersamaan bisa dilanjutkan dengan pola berbeda: sebagai kawan, sahabat, atau saudara. Kebencian pada orang lain hanya menjadi racun yang membunuh diri sendiri. Tebarkan cinta, hidup akan lebih berwarna.
Dua bulan: satu bulan pendekatan, satu bulan pacaran. Saya tidak suka harapan. Saya lakukan yang terbaik sekarang. Adik tersayang bertanya,”Sampai kapan, Mas?” Saya jawab,”Tidak tahu.” Jujur, saya tidak tahu yang akan terjadi nanti, bahkan esok hari. Nanti biar jadi misteri. Detik ini berarti detik ini. Sebisa mungkin saya isi dengan pengalaman indah. Sebab keindahan selalu memberi kekuatan. Apabila saya tengok kenangan yang terlewat, tercipta senyum anggun. Betapa hidup, dengan caranya yang tak terduga telah mengajarkan makna. Tak perlu hidup seribu tahun, dua bulan saja pemahaman itu terhampar begitu nyata. Dan saya akan terus mencipta keindahan dari kesempatan yang ada sekarang. Sampai suatu saat perpisahan itu terjadi.
Sekali lagi, kenangan indah memberi kekuatan. Masa yang terlewat, yang tak terengkuh kembali, kekal dalam diri. Persis kristal kenangan karaoke di NAV, kilaunya masih memancar sampai sekarang. Berdua, duet lagu Mayangsari: Rasa Cintaku. Tak ada sesiapa di dunia, hanya saya dan dia, berteriak di tengah malam buta, agar semesta mencatat cinta yang membuncah di dada:
Jangan ada kata kata berpisah
Jangan jangan aku takut mendengar
Kuingin selalu, selamanya denganmu
Hanya engkau saja satu-satunya
Tempat kubersandar di dalam dunia
Hanya padamu, kuserahkan cintaku
Kos Plemahan, 13 Desember 2009, 10.28 PM
Sungai air mata mbak Faradina—sahabat, penyair Merah Yang Meremah—meluap. Adik perempuan tersayang kecewa di Cikarang. Mereka sedih melihat saya bahagia. Sebab saya yang lelaki ini jatuh cinta pada dia yang juga lelaki. Sulit dijelaskan, pun sulit menjelaskan. Coba bayangkan perasaan maha dahsyat ini: kaki menjejak bumi, jiwa melambung ke langit tinggi. Dunia yang sumpek seketika menjelma surga. Bising kendaraan bermotor terdengar alunan melodi indah. Terik mentari terasa hangat di badan. Sunyi malam riuh geletar batin. Seluruh indera menjadi begitu peka. Hanya ada dia di setiap kedipan mata: lelaki tercinta.
Bagi saya, cinta adalah anugerah. Cinta bukan sejenis keinginan yang didapat dengan parameter tertentu. Cinta hadir, membuat manusia demam rindu atasnya. Dan yang terjadi di sini asmara. Menyeret saya dan dia menembangkan syair Kahlil Gibran,”Bila cinta memanggilmu, turutlah ke mana dia pergi.” Saya telah pergi menuju lelaki. Sebesar apa cinta itu, hanya saya sendiri yang tahu. Tidak pasangan saya, apalagi orang lain. Cukup disimpan di hati dan sesekali berbagi dalam bentuk puisi, semisal puisi Matahari Terbit Malam Hari.
Saya bukan tipikal orang yang mudah jatuh cinta. Selama empat tahun hati ini terkunci dan sekarang terbuka kembali. Bukan lantaran tak laku. Untuk seorang Antok Serean: ganteng, pintar, dan baik hati (ckckck) tawaran menjalin kasih—lelaki maupun perempuan—datang silih berganti. Tapi, saya tak bergeming. Cinta tanpa kompromi. Seolah mata air jernih yang bergulir indah di lereng-lereng hati dan menggenangi danau perasaan. Datang tanpa pesanan. Tugas saya hanyalah menjalani dengan lapang dada, jujur, ikhlas, dan penuh syukur. Sekarang cinta mempertemukan dengan lelaki, jalani saja. Pun nanti cinta mempertemukan dengan perempuan, jalani saja. Hati tak usah dikonstruksi. Biarkan mengalir apa adanya. Tak perlu dilawan, apalagi bunuh diri dengan ragam pengingkaran.
Dia berhasil membuat saya takhluk. Satu bulan dia mendekat, tak lelah mengajak, dan akhirnya tak menolak. Kenyataan bahwa pacar saya tampan tak bisa dipungkiri. Saya suka lantaran fisik memang iya. Bukankah senang mulanya pandangan? Tapi, bukan hanya itu alasannya. Dia serius dalam tindakan, terbuka, dan sudi berbagi apa saja. Di sisi lain, interpretasi saya tentang cinta, realitas hidup, dan nilai-nilai kehidupan sangat berbeda dibanding empat tahun lampau. Saya memahami konsep keutuhan diri dan konsep cinta yang membebaskan. Sekilas terdengar naïf. Tapi, bagi saya, cinta tidak untuk menjajah satu sama lain, justru membebaskan. Apabila sendiri berhadapan dengan cermin tunggal, maka berdua berhadapan dengan cermin ganda. Melalui dia saya dapat melihat diri saya yang lain.
Sebab hubungan antar lelaki tak ada patriarki, maka wilayah domestik aman-aman saja. Keseharian sederhana penuh makna. Seperti apa? Saya setrika, dia cuci baju. Saya bikin sarapan Sereal, dia antar belanja ke Carrefour. Juga saling mengingatkan satu sama lain. Dia yang rajin shalat mengingatkan saya untuk ibadah—sudah bisa ditebak, saya terlalu ndableg menjalankannya—. Dia minta saya mengurangi merokok. Dia menganjurkan minum jus buah dan rajin olahraga. Sebaliknya, saya minta dia teratur menaruh barang karena sifat pelupanya. Saya minta dia mengurangi makan dan rajin fitnes agar perutnya rata. Saya sumbang pemikiran ketika dia hendak pindah kerja. Atau menjalankan aktivitas bersama, seperti nonton ke bioskop, pergi ke tempat karaoke, pergi ke tempat ngeber, atau makan malam berdua. Indah bukan?
Tetapi, segala yang saya paparkan di atas tak ada di benak orang lain (baca: hetero). Selalu dan selalu, saya dihadapkan pada komentar, pertanyaan, dan ocehan dangkal seputar seks: siapa pewong siapa lekong, siapa nembak siapa ditembak. Memang tak ada yang salah dengan hal itu. Tapi, please deh, cerdas sedikit masa tidak bisa. Seolah kehidupan gay seputar selangkangan belaka. Lebih parah lagi, banyak yang melihat aktivitas gay terkait jual-beli tubuh. Saya benar-benar marah, ngamuk, mencak-mencak, ketika seorang karib bicara dengan enteng,”Kon dibayar piro sekali ngencuk?” (Kamu dibayar berapa sekali ML?) Saya dendam sebulan lamanya. Sebagai kawan dekat, saya merasa dilecehkan. Karib mengiba maaf. Oke, saya maafkan. Tapi, jangan memandang rendah saya atau gay lain.
Saya selalu bilang pada kawan hetero,”Saya suka lelaki atau perempuan tak merubah pribadi Antok Serean yang kamu kenal. Saya tetap suka membaca, menulis, melamun, dan cangkruk di warung kopi.” Pada kenyataannya, saya menerima perlakuan berbeda. Ketika pacaran dengan perempuan, mereka bersorak-sorak bergembira. Sebaliknya, ketika saya pacaran dengan lelaki, mereka menjaga jarak, seolah orang asing. Entahlah. Barangkali ini harga yang harus saya bayar demi nilai kejujuran. Menantang mainstream memang berat. Tapi, itu jalan yang saya pilih, lengkap dengan resikonya—banyak kawan dekat tak lagi mau kenal, terlebih setelah saya aktif di GAYa NUSANTARA—. Kalau sudah begitu, saya bakar semangat dengan baca ulang buku-buku Pramoedya Ananta Toer.
Meski masih dalam suasana kasmaran, tapi tampuk kesadaran saya tetap mengeja kefanaan hidup. Pertemuan dan perpisahan, kelahiran dan kematian, bak dua sisi mata uang. Kita tak bisa merenggut salah satunya. Bagi saya, titik beratnya bukan pada dua sisi itu, tapi proses di dalamnya. Setiap percintaan adalah kesempatan. Kesempatan menuai pengalaman. Bukankan hidup melaju dari rangkaian pengalaman demi pengalaman? Ada masanya kesempatan itu terhenti dan perpisahan terjadi. Bisa dengan akhir biasa-biasa saja: masing-masing merasa cukup lalu melanjutkan kehidupan sendiri—saya suka perpisahan indah ala Dee dan Marcel—. Bisa juga dengan dramaturgi klise: pertengkaran, perselingkuhan, salah satu menikah dengan perempuan, atau kematian. Saya tidak kenal kata putus, saya memilih kata pisah. Sebab kebersamaan bisa dilanjutkan dengan pola berbeda: sebagai kawan, sahabat, atau saudara. Kebencian pada orang lain hanya menjadi racun yang membunuh diri sendiri. Tebarkan cinta, hidup akan lebih berwarna.
Dua bulan: satu bulan pendekatan, satu bulan pacaran. Saya tidak suka harapan. Saya lakukan yang terbaik sekarang. Adik tersayang bertanya,”Sampai kapan, Mas?” Saya jawab,”Tidak tahu.” Jujur, saya tidak tahu yang akan terjadi nanti, bahkan esok hari. Nanti biar jadi misteri. Detik ini berarti detik ini. Sebisa mungkin saya isi dengan pengalaman indah. Sebab keindahan selalu memberi kekuatan. Apabila saya tengok kenangan yang terlewat, tercipta senyum anggun. Betapa hidup, dengan caranya yang tak terduga telah mengajarkan makna. Tak perlu hidup seribu tahun, dua bulan saja pemahaman itu terhampar begitu nyata. Dan saya akan terus mencipta keindahan dari kesempatan yang ada sekarang. Sampai suatu saat perpisahan itu terjadi.
Sekali lagi, kenangan indah memberi kekuatan. Masa yang terlewat, yang tak terengkuh kembali, kekal dalam diri. Persis kristal kenangan karaoke di NAV, kilaunya masih memancar sampai sekarang. Berdua, duet lagu Mayangsari: Rasa Cintaku. Tak ada sesiapa di dunia, hanya saya dan dia, berteriak di tengah malam buta, agar semesta mencatat cinta yang membuncah di dada:
Jangan ada kata kata berpisah
Jangan jangan aku takut mendengar
Kuingin selalu, selamanya denganmu
Hanya engkau saja satu-satunya
Tempat kubersandar di dalam dunia
Hanya padamu, kuserahkan cintaku
Kos Plemahan, 13 Desember 2009, 10.28 PM
Rabu, 09 Desember 2009
Cerpen SATU BOCAH PEREMPUAN LIMA BOCAH LAKI-LAKI*)
Bocah perempuan yang belum pernah menstruasi terkapar sekapar-kaparnya di ladang singkong. Kaos oblong robek. Payudara belum berbentuk memerah cakaran tangan, tangan mencakar payudara bocah perempuan belum berpayudara. Rok terlempar satu meter dari tubuh pakai celana dalam hitam sobek. Selangkangan bocah perempuan mengalir darah merah yang terus mengalir merah memerah darah. Dua matanya menatap juling malam yang kelam pekat sepekat-pekatnya gelap malam hitam sehitam-hitamnya malam. Di tekongan lelaki berbudi berhati suci menggeser kontolnya yang selip ke sempak sumpek berbau apek. Dua matanya bercahaya menatap malam yang terang gemilang penuh bintang benderang. Tapaknya mantap menghentak-hentak tanah yang basah sebasah-basahnya dosa yang suci terguyur air mani. Senyumnya buas mengembang terbang ke ruang batin penuh kepuasan buas sebuas-buasnya rasa puas. Di warung lelaki berbudi berhati suci berhenti menikmati secangkir kopi nikmat senikmat-nikmatnya pekat menggagahi perawan rapat.
Plak! Darah kental merembes di sela-sela bibir bocah perempuan itu yang belum tahu arti perempuan selain uang setoran yang kurang. Lima bocah laki-laki yang belum tahu arti laki-laki diam gemetaran menunggu giliran tamparan. Enam bocah tanpa ibu, tanpa bapak, tanpa dunia kanak-kanak berhadapan lelaki berbudi berhati suci yang mengerti perhitungan uang untuk makan, untuk naik kendaraan, untuk mabuk, untuk ngencuk, untuk berasyik-masyuk di tempat perempuan yang tahu arti perempuan, tak punya kesempatan jadi perempuan, terbekap tempat pelacuran. Plak! Plak! Plak! Plak! Plak! Satu bocah perempuan lima bocah laki-laki berdarah-darah, tak tahu arti darah tertumpah ruah seruah-ruahnya diri tanpa rumah, tanpa ibu, tanpa bapak, tanpa gelap, tanpa terang, tanpa kasih sayang selain mengumpulkan uang untuk lelaki berbudi berhati suci laiknya kiai yang rajin mengaji di tempat-tempat khianat laknat dengan tumpukan uang satu bocah perempuan lima bocah laki-laki yang tak paham arti uang jajan.
Siang lalu seperti siang-siang dahulu yang panas tubuh, panas hati pada orang-orang yang siang-siang kepanasan bergegas masuk ke mobil dingin, mall dingin, air minum dingin. Bocah perempuan itu menelan air liur melihat bocah perempuan lain bersama ibu, bersama bapak, bersama jalan melempar recehan tanpa peduli pada bocah perempuan yang panas kepanasan tubuh, kepanasan hati, kepanasan iri, kenapa mesti di sini, tidak di sana, bersama ibu, bersama bapak, bersama masuk ke mobil dingin, mall dingin, air minum dingin, bonus ice cream. Bocah perempuan itu menjadi tidak peduli pada panas, pada dingin, pada ice cream, pada ibu, pada bapak, pada orang-orang yang kepanasan mencari kedinginan, terus mengumpulkan recehan demi recehan uang demi uang untuk uang makan, ah bukan makan, untuk tuan lelaki berbudi berhati suci laiknya kiai yang rajin mengaji berniat suci menampung bocah perempuan bocah laki-laki di rumahnya sendiri yang membuka sumbangan yatim piatu untuk dirinya sendiri, bukan untuk bocah perempuan bocah laki-laki yang mengerti sendiri, benci sendiri, takut sendiri, bingung sendiri.
Malam lalu persis malam-malam dahulu yang beku, yang kuyu, yang layu, yang rindu, rindu-rindu batu di kepala, di hati, di sekujur tubuh satu bocah perempuan lima bocah laki-laki berdesakan dalam gudang sempit kejepit tangan, tangan menyenggol pantat, kaki menendang kepala, kepala menghantam dinding gapuk dari kayu lapuk, penuh rengat menyengat-nyekat badan yang gatal digaruk, semakin gatal merah-merah, ditambah nyamuk menusuk-nusuk satu bocah perempuan lima bocah laki-laki yang dipaksa mendengar ucapan lelaki berbudi berhati suci,”Besok harus bangun pagi!”. Pintu dikunci.
Lelaki berbudi berhati suci duduk ongkang-ongkang kaki nonton televisi, nenggak oplosan, menghisap rokok lintingan, rokok sepetan isi ganja, biar kepala penuh doa penuh dosa, biar satu bocah perempuan cepat dewasa, besar buah dada, kelihatan montok pantat semok, layak jual harga segepok, biar lima bocah laki-laki dengan karier sendiri-sendiri menjadi kuli, menjadi maling, menjadi rampok, menjadi pembunuh, menjadi gigolo, setor uang milyaran persis koruptor dalam kotak televisi yang bisa lari dari hukum, pergi ke luar negeri, ongkang-ongkang kaki seperti bayangan lelaki berbudi berhati suci tentang surga dunia, rumah istana, istri lima, kepingin tinggal buka celana, tanpa doa tanpa dosa uang sudah bicara.
Pagi ini seperti pagi kemarin, pagi-pagi satu bocah perempuan lima bocah laki-laki digelandang ke jalanan tanpa mandi, tanpa sarapan, badan kumal, jalan kaki tanpa sandal. Lelaki berbudi berhati suci tampil berbudi berhati suci pakai sarung, baju taqwa, peci haji, berjalan pelan, langkah penuh aturan, menyusuri gang-gang, menebar senyum kepalsuan, menawarkan doa penghapus dosa pada rumah-rumah yang mengundang les privat mengaji dan budi pekerti bocah-bocah bahagia selalu mandi, selalu sarapan, selalu badan bersih, selalu pakaian rapi, tanpa noda, tanpa kotoran, tanpa najis, persis petuah lelaki berbudi berhati suci: kebersihan sebagian daripada iman. Satu bocah perempuan mengemis di pinggir jalan, lima bocah laki-laki mengamen di bis kota, jual koran di perempatan jalan, ngutil di mall, nyopet di terminal, keliling asongon rokok, tisu, minyak angin, minuman gelas, asinan mangga. Lelaki berbudi berhati suci makan siang nasi putih bersih, sayur cap cay, lauk ayam goreng renyah, dendeng daging, krupuk udang, minum orange juice, buah anggur, apel, pear, pisang, melon.
Sore ini mirip sore kemarin, tidak sama sore kemarin, berbeda sore kemarin, satu bocah perempuan empat bocah laki-laki berdiri berjajar siap menerima tamparan. Plak! Plak! Plak! Plak! Plak! Untuk setoran kurang. Plak! Plak! Plak! Plak! Plak! Untuk terlambat pulang. Brak! Brak! Brak! Brak! Brak! Tendangan untuk satu bocah laki-laki hilang tanpa alasan, tanpa pamitan. Satu bocah perempuan empat bocah laki-laki merintih-rintih menanggung pedih di pipi, di perut, di kaki, di punggung, di dada, di jiwa. Tak tahu di mana, entah ke mana. Sumpah menyumpah sumpah serapah. Lelaki berbudi berhati suci menarik belati mengancam mati, cepat cari cari cepat secepat-cepatnya cari cepat-cepat jangan pulang, dilarang pulang, bawa bocah laki-laki kembali ke rumah hidup-hidup mati-mati tak peduli harus ada di sini, di sini hidup atau mati, mati satu mati semua, satu bocah perempuan empat bocah laki-laki diancam belati. Satu bocah perempuan muntah, empat bocah laki-laki lari keluar rumah, bukan rumah, apakah rumah, dimanakah rumah, kemanakah rumah, tak tahu rumah. Jalanan lengang, sepi, sunyi, orang-orang tak peduli, buat apa peduli, magrib waktunya suci, sesuci-sucinya adzan, tak peduli orang-orang kesakitan, empat bocah laki-laki kebingungan di jalanan lengang, sepi, sunyi, sendiri tak ada yang peduli, mencari terus mencari, terus-menerus mencari, terus mencari terus-menerus.
Satu bocah perempuan di rumah muntah darah, terus muntah-muntah, terus berdarah-darah, kepala putar gasingan berputar-putar terus berputar gasingan, tubuh gemetaran lemas lemah lunglai tak berdaya, apa daya, tak kuasa, gemetaran tak berdaya, lemas, lemah, lunglai tubuh, dada sesak perut mual, satu bocah perempuan gelojotan di lantai, gelojotan terus gelojotan-gelojotan, dua mata berputar-putar, dua mata berkunang-kunang, putar-putar dua mata, kunang-kunang dua mata. Lelaki berbudi berhati suci berdiri berkacak pinggang.
Tidak jelas setan, tidak jelas malaikat, setan malaikat tidak jelas, menyusup ke benak lelaki berbudi berhati suci berdiri berkacak pinggang menatap bocah perempuan gelonjotan terus gelonjotan, kesakitan tanpa belas kasihan, lelaki berbudi berhati suci mengamati rok bocah perempuan tersingkap, tersingkap rok bocah perempuan, kelihatan celana dalam hitam sehitam-hitamnya celana dalam hitam, hitam pikiran lelaki berbudi berhati suci sehitam-hitamnya pikiran hitam menatap paha halus mulus, enak dielus, elusan setan, elusan malaikat, setan malaikat mengelus-elus pikiran hitam lelaki berbudi berhati suci menelan ludah, ludah ditelan masuk tenggorokan, memanas panas dada, dada panas kepanasan, kembang-kempis tak karuan, nafsu berkobar-kobar, kobaran nafsu kobaran-kobaran nafsu membakar-bakar celana, celana terbakar, rudal siap diluncurkan ke sasaran bocah perempuan terus gelonjotan, terus-menerus gelonjotan, gelonjotan terus-menerus, kesakitan tak ada yang kasihan, buat apa kasihan, nafsu tak kenal kasihan, rudal harus mengenai sasaran bocah perempuan bercelana dalam hitam, sehitam-hitamnya pikiran lelaki berbudi berhati suci tangan kiri merogoh isi celana dalam sendiri, keras berdiri, ngaceng sengaceng-ngacengnya kontol keras, sekeras-kerasnya kontol ngaceng, berdiri dengan belati di tangan kanan siap menghujam tajam, setajam kontol ngaceng belati tajam rudal harus diluncurkan, lelaki berbudi berhati suci menjambak bocah perempuan berteriak-teriak, terus teriak-teriak, tak peduli, tak kasihan, rudal harus kena sasaran bocah perempuan ngamuk tersuruk-suruk serupa beruk, seberuk-beruknya lelaki berbudi berhati suci merobek kaos oblong bocah perempuan dengan belati, mencakar dua payudara belum jadi, memar-memar merah-merah darah-darah, lelaki berbudi berhati suci semakin marah, semarah-marahnya setan malaikat tak jelas, setan tak jelas, malaikat tak jelas menerobos pikiran lelaki berbudi berhati suci merobek celana dalam hitam, sehitam-hitamnya lelaki berbudi berhati suci memasukkan paksa kontol ngaceng, sengaceng-ngacengnya rudal siap diluncurkan dalam vagina bocah perempuan setengah hidup setengah mati yang belum pernah menstruasi, digenjot terus digenjot lelaki berbudi berhati suci dirasuki setan tak jelas, malaikat tak jelas, setan malaikat tak jelas, sampai misi rudal tuntas, setuntas-tuntasnya kontol ngaceng jadi lemas puas, sepuas-puasnya doa, sepuas-puasnya dosa menggagahi perawan rapat nikmat sesaat, senikmat-nikmatnya setan malaikat tak jelas muncrat campur darah merah, semerah-merahnya darah yang mengalir terus mengalir dari vagina bocah perempuan, tersengal setengah hidup setengah mati dengan dua mata juling, sejuling-julingnya mata penuh dendam, penuh kebencian pada lelaki berbudi berhati suci berkontol lemas bangkit sepuas-puasnya binatang buas, sebuas-buasnya binatang menyeret bocah perempuan ke belakang rumah penuh kepuasan buas, sebuas kepuasan melempar bocah perempuan ke ladang singkong di belakang rumah persis debog pisang terkapar dengan dua mata juling menatap malam pekat, sepekat-pekatnya malam yang benderang di kepala lelaki berbudi berhati suci melangkah pelan di tekongan.
Satu bocah perempuan terkapar di ladang singkong sekapar-kaparnya kematian, empat bocah laki-laki tersesat di jalanan malam, semalam-malamnya satu bocah laki-laki mati tertabrak truk menabrak satu bocah laki-laki terlempar ke selokan, tertimbun barang asongan, mati semati-matinya malam pekat, sepekat-pekatnya malam membangunkan anjing-anjing kudisan mengendus-endus mayat satu bocah laki-laki mati, semati-matinya benak lelaki berbudi berhati suci nikmat meneguk secangkir kopi hangat.
*) terinspirasi dari gerombolan anak jalanan, satu bocah perempuan lima bocah laki-laki, di jalan Kertajaya, Surabaya.
Kertajaya, Surabaya, 06-09-2009, 03.09 AM
Plak! Darah kental merembes di sela-sela bibir bocah perempuan itu yang belum tahu arti perempuan selain uang setoran yang kurang. Lima bocah laki-laki yang belum tahu arti laki-laki diam gemetaran menunggu giliran tamparan. Enam bocah tanpa ibu, tanpa bapak, tanpa dunia kanak-kanak berhadapan lelaki berbudi berhati suci yang mengerti perhitungan uang untuk makan, untuk naik kendaraan, untuk mabuk, untuk ngencuk, untuk berasyik-masyuk di tempat perempuan yang tahu arti perempuan, tak punya kesempatan jadi perempuan, terbekap tempat pelacuran. Plak! Plak! Plak! Plak! Plak! Satu bocah perempuan lima bocah laki-laki berdarah-darah, tak tahu arti darah tertumpah ruah seruah-ruahnya diri tanpa rumah, tanpa ibu, tanpa bapak, tanpa gelap, tanpa terang, tanpa kasih sayang selain mengumpulkan uang untuk lelaki berbudi berhati suci laiknya kiai yang rajin mengaji di tempat-tempat khianat laknat dengan tumpukan uang satu bocah perempuan lima bocah laki-laki yang tak paham arti uang jajan.
Siang lalu seperti siang-siang dahulu yang panas tubuh, panas hati pada orang-orang yang siang-siang kepanasan bergegas masuk ke mobil dingin, mall dingin, air minum dingin. Bocah perempuan itu menelan air liur melihat bocah perempuan lain bersama ibu, bersama bapak, bersama jalan melempar recehan tanpa peduli pada bocah perempuan yang panas kepanasan tubuh, kepanasan hati, kepanasan iri, kenapa mesti di sini, tidak di sana, bersama ibu, bersama bapak, bersama masuk ke mobil dingin, mall dingin, air minum dingin, bonus ice cream. Bocah perempuan itu menjadi tidak peduli pada panas, pada dingin, pada ice cream, pada ibu, pada bapak, pada orang-orang yang kepanasan mencari kedinginan, terus mengumpulkan recehan demi recehan uang demi uang untuk uang makan, ah bukan makan, untuk tuan lelaki berbudi berhati suci laiknya kiai yang rajin mengaji berniat suci menampung bocah perempuan bocah laki-laki di rumahnya sendiri yang membuka sumbangan yatim piatu untuk dirinya sendiri, bukan untuk bocah perempuan bocah laki-laki yang mengerti sendiri, benci sendiri, takut sendiri, bingung sendiri.
Malam lalu persis malam-malam dahulu yang beku, yang kuyu, yang layu, yang rindu, rindu-rindu batu di kepala, di hati, di sekujur tubuh satu bocah perempuan lima bocah laki-laki berdesakan dalam gudang sempit kejepit tangan, tangan menyenggol pantat, kaki menendang kepala, kepala menghantam dinding gapuk dari kayu lapuk, penuh rengat menyengat-nyekat badan yang gatal digaruk, semakin gatal merah-merah, ditambah nyamuk menusuk-nusuk satu bocah perempuan lima bocah laki-laki yang dipaksa mendengar ucapan lelaki berbudi berhati suci,”Besok harus bangun pagi!”. Pintu dikunci.
Lelaki berbudi berhati suci duduk ongkang-ongkang kaki nonton televisi, nenggak oplosan, menghisap rokok lintingan, rokok sepetan isi ganja, biar kepala penuh doa penuh dosa, biar satu bocah perempuan cepat dewasa, besar buah dada, kelihatan montok pantat semok, layak jual harga segepok, biar lima bocah laki-laki dengan karier sendiri-sendiri menjadi kuli, menjadi maling, menjadi rampok, menjadi pembunuh, menjadi gigolo, setor uang milyaran persis koruptor dalam kotak televisi yang bisa lari dari hukum, pergi ke luar negeri, ongkang-ongkang kaki seperti bayangan lelaki berbudi berhati suci tentang surga dunia, rumah istana, istri lima, kepingin tinggal buka celana, tanpa doa tanpa dosa uang sudah bicara.
Pagi ini seperti pagi kemarin, pagi-pagi satu bocah perempuan lima bocah laki-laki digelandang ke jalanan tanpa mandi, tanpa sarapan, badan kumal, jalan kaki tanpa sandal. Lelaki berbudi berhati suci tampil berbudi berhati suci pakai sarung, baju taqwa, peci haji, berjalan pelan, langkah penuh aturan, menyusuri gang-gang, menebar senyum kepalsuan, menawarkan doa penghapus dosa pada rumah-rumah yang mengundang les privat mengaji dan budi pekerti bocah-bocah bahagia selalu mandi, selalu sarapan, selalu badan bersih, selalu pakaian rapi, tanpa noda, tanpa kotoran, tanpa najis, persis petuah lelaki berbudi berhati suci: kebersihan sebagian daripada iman. Satu bocah perempuan mengemis di pinggir jalan, lima bocah laki-laki mengamen di bis kota, jual koran di perempatan jalan, ngutil di mall, nyopet di terminal, keliling asongon rokok, tisu, minyak angin, minuman gelas, asinan mangga. Lelaki berbudi berhati suci makan siang nasi putih bersih, sayur cap cay, lauk ayam goreng renyah, dendeng daging, krupuk udang, minum orange juice, buah anggur, apel, pear, pisang, melon.
Sore ini mirip sore kemarin, tidak sama sore kemarin, berbeda sore kemarin, satu bocah perempuan empat bocah laki-laki berdiri berjajar siap menerima tamparan. Plak! Plak! Plak! Plak! Plak! Untuk setoran kurang. Plak! Plak! Plak! Plak! Plak! Untuk terlambat pulang. Brak! Brak! Brak! Brak! Brak! Tendangan untuk satu bocah laki-laki hilang tanpa alasan, tanpa pamitan. Satu bocah perempuan empat bocah laki-laki merintih-rintih menanggung pedih di pipi, di perut, di kaki, di punggung, di dada, di jiwa. Tak tahu di mana, entah ke mana. Sumpah menyumpah sumpah serapah. Lelaki berbudi berhati suci menarik belati mengancam mati, cepat cari cari cepat secepat-cepatnya cari cepat-cepat jangan pulang, dilarang pulang, bawa bocah laki-laki kembali ke rumah hidup-hidup mati-mati tak peduli harus ada di sini, di sini hidup atau mati, mati satu mati semua, satu bocah perempuan empat bocah laki-laki diancam belati. Satu bocah perempuan muntah, empat bocah laki-laki lari keluar rumah, bukan rumah, apakah rumah, dimanakah rumah, kemanakah rumah, tak tahu rumah. Jalanan lengang, sepi, sunyi, orang-orang tak peduli, buat apa peduli, magrib waktunya suci, sesuci-sucinya adzan, tak peduli orang-orang kesakitan, empat bocah laki-laki kebingungan di jalanan lengang, sepi, sunyi, sendiri tak ada yang peduli, mencari terus mencari, terus-menerus mencari, terus mencari terus-menerus.
Satu bocah perempuan di rumah muntah darah, terus muntah-muntah, terus berdarah-darah, kepala putar gasingan berputar-putar terus berputar gasingan, tubuh gemetaran lemas lemah lunglai tak berdaya, apa daya, tak kuasa, gemetaran tak berdaya, lemas, lemah, lunglai tubuh, dada sesak perut mual, satu bocah perempuan gelojotan di lantai, gelojotan terus gelojotan-gelojotan, dua mata berputar-putar, dua mata berkunang-kunang, putar-putar dua mata, kunang-kunang dua mata. Lelaki berbudi berhati suci berdiri berkacak pinggang.
Tidak jelas setan, tidak jelas malaikat, setan malaikat tidak jelas, menyusup ke benak lelaki berbudi berhati suci berdiri berkacak pinggang menatap bocah perempuan gelonjotan terus gelonjotan, kesakitan tanpa belas kasihan, lelaki berbudi berhati suci mengamati rok bocah perempuan tersingkap, tersingkap rok bocah perempuan, kelihatan celana dalam hitam sehitam-hitamnya celana dalam hitam, hitam pikiran lelaki berbudi berhati suci sehitam-hitamnya pikiran hitam menatap paha halus mulus, enak dielus, elusan setan, elusan malaikat, setan malaikat mengelus-elus pikiran hitam lelaki berbudi berhati suci menelan ludah, ludah ditelan masuk tenggorokan, memanas panas dada, dada panas kepanasan, kembang-kempis tak karuan, nafsu berkobar-kobar, kobaran nafsu kobaran-kobaran nafsu membakar-bakar celana, celana terbakar, rudal siap diluncurkan ke sasaran bocah perempuan terus gelonjotan, terus-menerus gelonjotan, gelonjotan terus-menerus, kesakitan tak ada yang kasihan, buat apa kasihan, nafsu tak kenal kasihan, rudal harus mengenai sasaran bocah perempuan bercelana dalam hitam, sehitam-hitamnya pikiran lelaki berbudi berhati suci tangan kiri merogoh isi celana dalam sendiri, keras berdiri, ngaceng sengaceng-ngacengnya kontol keras, sekeras-kerasnya kontol ngaceng, berdiri dengan belati di tangan kanan siap menghujam tajam, setajam kontol ngaceng belati tajam rudal harus diluncurkan, lelaki berbudi berhati suci menjambak bocah perempuan berteriak-teriak, terus teriak-teriak, tak peduli, tak kasihan, rudal harus kena sasaran bocah perempuan ngamuk tersuruk-suruk serupa beruk, seberuk-beruknya lelaki berbudi berhati suci merobek kaos oblong bocah perempuan dengan belati, mencakar dua payudara belum jadi, memar-memar merah-merah darah-darah, lelaki berbudi berhati suci semakin marah, semarah-marahnya setan malaikat tak jelas, setan tak jelas, malaikat tak jelas menerobos pikiran lelaki berbudi berhati suci merobek celana dalam hitam, sehitam-hitamnya lelaki berbudi berhati suci memasukkan paksa kontol ngaceng, sengaceng-ngacengnya rudal siap diluncurkan dalam vagina bocah perempuan setengah hidup setengah mati yang belum pernah menstruasi, digenjot terus digenjot lelaki berbudi berhati suci dirasuki setan tak jelas, malaikat tak jelas, setan malaikat tak jelas, sampai misi rudal tuntas, setuntas-tuntasnya kontol ngaceng jadi lemas puas, sepuas-puasnya doa, sepuas-puasnya dosa menggagahi perawan rapat nikmat sesaat, senikmat-nikmatnya setan malaikat tak jelas muncrat campur darah merah, semerah-merahnya darah yang mengalir terus mengalir dari vagina bocah perempuan, tersengal setengah hidup setengah mati dengan dua mata juling, sejuling-julingnya mata penuh dendam, penuh kebencian pada lelaki berbudi berhati suci berkontol lemas bangkit sepuas-puasnya binatang buas, sebuas-buasnya binatang menyeret bocah perempuan ke belakang rumah penuh kepuasan buas, sebuas kepuasan melempar bocah perempuan ke ladang singkong di belakang rumah persis debog pisang terkapar dengan dua mata juling menatap malam pekat, sepekat-pekatnya malam yang benderang di kepala lelaki berbudi berhati suci melangkah pelan di tekongan.
Satu bocah perempuan terkapar di ladang singkong sekapar-kaparnya kematian, empat bocah laki-laki tersesat di jalanan malam, semalam-malamnya satu bocah laki-laki mati tertabrak truk menabrak satu bocah laki-laki terlempar ke selokan, tertimbun barang asongan, mati semati-matinya malam pekat, sepekat-pekatnya malam membangunkan anjing-anjing kudisan mengendus-endus mayat satu bocah laki-laki mati, semati-matinya benak lelaki berbudi berhati suci nikmat meneguk secangkir kopi hangat.
*) terinspirasi dari gerombolan anak jalanan, satu bocah perempuan lima bocah laki-laki, di jalan Kertajaya, Surabaya.
Kertajaya, Surabaya, 06-09-2009, 03.09 AM
Rabu, 02 Desember 2009
Puisi SENJA DI PLEMAHAN
kamar hampa kamar nelangsa
tiada siapa menjamu rasa
tiba-tiba, memar lama terjaga
kembali berdarah
kembali bernanah
kucari obat dilapuk masa
tak tersedia
semakin berdarah
semakin bernanah
tubuh terbelah
di luar, senja memerah marah
malam menuang tuak gelisah
kos plemahan, 02.11.2009, 06,26 pm
tiada siapa menjamu rasa
tiba-tiba, memar lama terjaga
kembali berdarah
kembali bernanah
kucari obat dilapuk masa
tak tersedia
semakin berdarah
semakin bernanah
tubuh terbelah
di luar, senja memerah marah
malam menuang tuak gelisah
kos plemahan, 02.11.2009, 06,26 pm
Selasa, 01 Desember 2009
Puisi SEPASANG BURUNG MENGEPAK SAYAP
Sepasang burung jumpa di malam Perancis. Geletar-debar mengusik batin. Sebab mata menangkap keindahan raga. Begitu memesona. Lalu goda tanya menyapa,”Sudahkah tubuh itu termiliki?” Masing-masing saling melempar kail. Mengukur seberapa dalam samudera jiwa terselami, sembari menerka-nerka: inikah rerupa cinta? Malam itu juga sepasang burung terbang rendah, melintasi rerumputan basah, menepi di cecabang dahan: saling menghangatkan.
Sepasang burung mengepak sayap. Sadar, menjelajah angkasa butuh kekuatan ekstra. Dan sesuatu—keyakinan—tak bisa tumbuh secepat lumut. Pandang mata menerobos rahasia jiwa: sejauh mana rasa percaya? Sebab Atlantik tak mungkin dibelah dengan sampan. Luka bisa berubah warna. Suka bisa beralih muka. Selalu hadir yang tak terduga.
Di hamparan Sahara, sepasang burung saling bertanya,”Adakah aku berarti bagimu?” Dalam bentang hidup yang aus, sulit rasanya terhindar haus. Sudah biasa, diri sunyi sepi sendiri, meski kekar perkasa menebar mimpi. Lalu angin kering membawa kabar singkat,”Jalani saja. Enyahkan praduga. Tugasmu di dunia hanya merasa, bukan menakar sengketa.”
Sejauh mata memandang terbentang harapan—padahal burung benci harapan, sebab menipu kenyataan dengan kebohongan angan. Tapi, percaya pada kesempatan adalah anugerah. Diri kembali terdadah. Sanggup menyibak rahasia sebutir pasir, mampu menterjemahkan bahasa angin. Dan oase—sesuatu yang jernih, murni, tidak terkotori—mengalir di sungai-sungai hati, menumbuhkan biji surgawi.
Di puncak Everest, sepasang burung bergenggaman. Suara sumbang kembali datang,”Luka baru akan menganga, duka baru akan menyapa.” Keringat nelangsa membasah di dada. Batin gugu menghadapi hidup gagu: sepasang burung tak ingin pisah, tetapi manusia selalu memanah. Bagi manusia, kematian berdarah tampak begitu indah.
Kos Plemahan, 29.11.2009, 01.56 AM
Sepasang burung mengepak sayap. Sadar, menjelajah angkasa butuh kekuatan ekstra. Dan sesuatu—keyakinan—tak bisa tumbuh secepat lumut. Pandang mata menerobos rahasia jiwa: sejauh mana rasa percaya? Sebab Atlantik tak mungkin dibelah dengan sampan. Luka bisa berubah warna. Suka bisa beralih muka. Selalu hadir yang tak terduga.
Di hamparan Sahara, sepasang burung saling bertanya,”Adakah aku berarti bagimu?” Dalam bentang hidup yang aus, sulit rasanya terhindar haus. Sudah biasa, diri sunyi sepi sendiri, meski kekar perkasa menebar mimpi. Lalu angin kering membawa kabar singkat,”Jalani saja. Enyahkan praduga. Tugasmu di dunia hanya merasa, bukan menakar sengketa.”
Sejauh mata memandang terbentang harapan—padahal burung benci harapan, sebab menipu kenyataan dengan kebohongan angan. Tapi, percaya pada kesempatan adalah anugerah. Diri kembali terdadah. Sanggup menyibak rahasia sebutir pasir, mampu menterjemahkan bahasa angin. Dan oase—sesuatu yang jernih, murni, tidak terkotori—mengalir di sungai-sungai hati, menumbuhkan biji surgawi.
Di puncak Everest, sepasang burung bergenggaman. Suara sumbang kembali datang,”Luka baru akan menganga, duka baru akan menyapa.” Keringat nelangsa membasah di dada. Batin gugu menghadapi hidup gagu: sepasang burung tak ingin pisah, tetapi manusia selalu memanah. Bagi manusia, kematian berdarah tampak begitu indah.
Kos Plemahan, 29.11.2009, 01.56 AM
Langgan:
Entri (Atom)

